Tanpa Disadari, Betapa Kejamnya Sedotan Dalam Merusak Lingkungan

Bagikan Yuk

Ketergantungan pemakaian kantong plastik telah menjadi isu yang menghangat di berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir. Sampah plastik dapat mencemari lingkungan dalam jangka waktu yang amat sangat lama. Sifat plastik yang tidak mudah terurai membuat sampah jenis ini memang menjadi persoalan serius.

Plastik membutuhkan 500-1.000 tahun untuk benar-benar terurai. Sehingga plastik pertama yang diproduksi manusia, jika kini masih terombang-ambing di lautan, tetap dalam bentuk yang sama seperti saat diproduksi.

Namun banyak yang lupa bentuk lain plastik yang selama ini dengan mudahnya dipakai dan dibuang dengan enteng: sedotan plastik.

Dalam kompilasi data yang disusun Eco Watchkurang lebih 500 juta sedotan plastik dibuang setiap hari setelah dipakai sekali saja. Sedotan plastik masuk dalam kategori produk berbahan plastik yang 50 persennya dibuang saat sudah selesai digunakan.

Warga AS membuang 175 juta sedotan tiap hari. Sementara di Inggris rata-rata ada 3,5 juta sampah sedotan plastik per hari yang dihasilkan pelanggan McDonald’s saja. Jumlahnya akan membengkak jika digabung dengan restoran cepat saji lain, ditambah restoran cepat saji di Eropa lainnya, lalu di dunia.

Sementara di Indonesia, perkiraan pemakaian sedotan di Indonesia mencapai 93.244.847 batang setiap hari.

Bersama kantong plastik (yang dikonsumsi manusia hingga 500 miliar buah per tahun atau 1 juta per menit), plastik bekas menyumbang 60-80 persen dari total sampah laut. Sedotan plastik selalu masuk dalam 10 besar sampah yang mencemari lautan. Saking menumpuknya, dari total luas laut bumi, kini ada 46.000 sampah plastik per satu mil persegi.

Skenario selanjutnya mudah ditebak: polusi ini mengganggu kehidupan satwa laut. 44 persen spesies burung laut, 22 persen mamalia laut, semua spesies penyu, dan beberapa spesies ikan terdokumentasi memiliki sampah plastik di tubuhnya, baik tertelan maupun menempel permanen di tubuhnya. Lebih kejam lagi, sampah plastik membunuh setidaknya 1 juta burung laut, dan 100.000 mamalia laut dan penyu tiap tahun.

Sejumlah media massa pada pertengahan Maret lalu kembali memviralkan video yang diunggah CostaRicanSeaTurtles di kanal Youtube. Video itu memperlihatkan perjuangan Christine Figgener dari Txas A&M Uniersity dan kawan-kawannya untuk membuang sebatang limbah sedotan plastik dari lubang hidung seekor penyu laut jantan jenis Olive Ridley.

Sedotan modern rata-rata dibuat dari plastik jenis polypropylene, polystyrene, dan beberapa campuran kimia lainnya yang berkembang di tiap zaman sesuai kebutuhan.

Bahan tersebut sebenarnya dianggap aman oleh Food and Drug Administration. Namun, bahan kimia ini dapat terserap ke dalam cairan dan dapat melepaskan senyawa yang memengaruhi tingkat estrogen, terutama ketika terkena panas, minuman asam atau sinar UV.

Saat ini jenis sedotan sudah banyak sekali variannya. Joseph Firedman menciptakan sedotan yang bisa ditekuk ujungnya. Ada sedotan yang bisa berubah warnanya jika minuman terlalu panas, sedotan yang keras untuk permen lolipop, sedotan mini dan biasa disertakan sepaket dalam minuman kotak kemasan, sampai sedotan berlubang besar untuk minuman jenis “bubble tea” atau teh dengan mutiara tapioka.

Upaya Pengurangan Sedotan

Sementara isu lingkungan baru muncul kemudian. Dan dari tahun ke tahun isu lingkungan makin nyaring terdengar dan melahirkan inisiatif baru demi kebersihan lingkungan dan keselamatan satwa laut.

Straw Wars, misalnya, menggandeng restoran-restoran prestisius di London seperti Soho untuk tidak menyerahkan sedotan kepada pembeli dan hanya akan memberi jika diminta. Langkah ini didukung organisasi seperti Marine Conservation Society yang selama ini aktif dengan kampanye buang sampahnya.

“Banyak survei yang menunjukkan sampah plastik sekali pakai di laut dan pantai, termasuk sedotan yang diberikan secara rutin kepada konsumen restoran. Limbah sedotan di lautan berasal dari sampah yang dibuang sembarangan di jalanan, lalu ke lautan via sungai dan selokan. Sampah plastik sekali pakai menjadi 60 persen dari total sampah laut yang selama ini ditemukan di pantai-pantai Inggris,” kata Emma Snowden, pegiat Marine Conservation Society.

Langkah untuk pencegahan penggunaan sedotan juga dilakukan oleh Starbucks. Starbucks mengumumkan bahwa mulai tahun 2020 akan berhenti pakai sedotan plastik di seluruh gerainya. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukung gerakan ramah lingkungan. Sebab, sedotan plastik merupakan bagian dari limbah yang mencemari lingkungan.

Starbucks akan mengubah bentuk kemasan minuman menjadi strawless lid atau sippy cup sebagai ganti sedotan plastik. Anda bisa langsung minum dari gelas yang diberi lubang di bagian tutupnya.

Dengan menghentikan penggunaan sedotan plastik, Starbucks berencana mengurangi sekitar 1 miliar limbah sedotan per tahun yang dihasilkan 28 ribu gerainya di seluruh dunia.

“Secara alami, sedotan tidak dapat didaur ulang. Jadi, kami merasa keputusan ini lebih berkelanjutan dan lebih bertanggung jawab secara sosial,” kata Chris Milne, direktur pengemasan produk untuk Starbucks.

Tak ketinggalan dengan negara lain. Di Indonesia ada gerakan #NoStrawMovement yang dipelopori komunitas Divers Clean Action (DCA). Awalnya mereka menemukan banyak sedotan plastik yang mendominasi sampah saat kegiatan bersih laut. Mayoritas sedotan itu berasal dari restoran-restoran cepat saji. Untuk itu, DCA menggelar kampanye #NoStrawMovement untuk mengetuk kepedulian industri makanan.

Marketing Manager PT Fast Food Indonesia (FFI) Adi Sunandar, seperti dilansir Media Indonesia, menyatakan pihaknya mendukung kampanye tersebut. Sebagai pemegang franchise KFC Indonesia, Adi telah mengajak seluruh konsumennya untuk menolak pemakaian sedotan plastik di setiap gerai KFC. Mereka juga sedang merancang gelas yang tidak memerlukan sedotan agar bisa digunakan untuk minum.

Dari kalangan artis juga banyak yang sudah mulai melakukan kampanye tentang sedotan. Dua di antaranya adalah Hamish Daud dan Nadine Chandrawinata. Selain sebagai selebriti, keduanya memang dikenal sebagai aktivis lingkungan. Masih ingat ‘kan foto Hamish sedang minum air kelapa muda menggunakan tangkai daun pepaya? Itu salah satu caranya mengurangi penggunaan sedotan plastik.

Jika Anda termasuk orang yang sering minum pakai sedotan, bisa beralih pada penggunaan sedotan berbahan aluminium, baja tahan karat, dan titanium yang tahan karat.

Sedotan ini dianggap sebagai pilihan paling ramah lingkungan karena bisa digunakan berkali-kali.

Sumber artikel :

1. https://tirto.id/ sejarah-sedotan-plastik-dan-bahaya-yang-diremehkan-cmw1

2. https://beritagar.id /artikel/gaya-hidup/bahaya-sedotan-plastik-bagi-lingkungan-dan-kesehatan-manusia

3. https://entertainment.kompas.com /read/2018/04/22/143545510/nadine-chandrawinata-kampanyekan-bahaya-sampah-sedotan-plastik

4. https://www.hipwee.com/ feature/4-alasan-kenapa-kamu-harus-berhenti-pakai-sedotan-plastik-sekarang-juga-penting-banget-lho-guys/

Advertisement
Advertisement

Artikel Menarik Lainnya

3 Replies to “Tanpa Disadari, Betapa Kejamnya Sedotan Dalam Merusak Lingkungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *