Sanggar Anak Alam (SALAM) : Riset, Tanpa Guru, Tanpa Seragam

Bagikan Yuk

Sumber : https://www.cendananews.com/2016/09/sanggar-anak-alam-mendidik-anak-menghargai-perbedaan-sejak-dini.html

Angin sepoi dari sawah menyusup lewat rongga dinding bambu menuju ruang kelas di Sanggar Anak Alam (SALAM). Tak ada bangku-bangku berjejer kaku, di ruangan itu hanya ada satu meja kayu panjang yang dipakai bersama layaknya meja makan di rumah. Nane, salah satu siswa kelas 7 sedang duduk tepekur membaca buku soal tanaman obat herbal. Semester ini ia memilih riset soal obat herbal, “Semester lalu aku riset soal tanaman, baru semester ini aku kembangkan riset soal tanaman herbal. Nanti pengin bikin obat batuk sendiri.” Buku yang ia pegang berhias lipatan di ujung-ujung halamannya.

Duduk di sampingnya, Jeno tengah meriset soal Tari Salsa. Ia sedang membuat sketsa seorang penari berkostum warna-warni. Ada juga Ellena yang belajar soal shampo organik, Nil yang meneliti kopi, dan teman-teman lain yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tak ada komando dari guru untuk membuka buku di halaman tertentu atau ujian kelas tiap minggu, begitulah rutinitas sehari-hari sekolah di SALAM.

Lalu pelajarannya apa? Gurunya ngapain? Tugas-tugasnya mana?

Jawaban dari semua pertanyaan itu singkat saja. Tidak ada. (1)

SEJARAH SANGGAR ANAK ALAM YOGYAKARTA

Suatu hari pada 1988 di Desa Lawen, wilayah terpencil di Jawa Tengah. Akses menuju ke sana sulit, listrik belum masuk. Sri Wahyaningsih yang ketika itu baru setahun menikah dengan aktivis LSM Toto Rahardjo mengamati banyaknya anak putus sekolah dan pernikahan dini di desa yang merupakan daerah asal sang suami tersebut.

Sumber : https://www.humas.id/sri-wahyaningsih-wanita-dibalik-sanggar-anak-alam-yogyakarta/

“Saya keliling SD-SD, banyak murid yang mrotoli. Kelas I-III bisa 50 anak, tapi di kelas V-VI tinggal 8 atau 10. Paling banyak 15 murid,” terangnya saat dijumpai di kediamannya, Nitiprayan, Bantul, Jogjakarta, pada 13 April.

Wahya -sapaan Sri Wahyaningsih- mencoba untuk mengajak warga desa bicara.

Kemiskinan yang men­jadi akarnya. “Mereka bilang, buat apa sekolah. Toh, sekolah tidak menjawab apa-apa. Anak-anak nantinya juga jadi buruh pabrik. Pertanian tidak bisa diandalkan,” tutur perempuan kelahiran Klaten, 19 Desember 1961, tersebut. Padahal, Lawen merupakan daerah subur.

Wahya, yang ketika itu bekerja membantu sastrawan dan budayawan Romo Mangunwijaya di Code, Jogjakarta, memutuskan untuk menetap di Lawen. Meski, ketika itu sang suami ditugaskan ke NTT. “Saya diantar langsung oleh Romo Mangun. Sepanjang jalan, beliau cerita masa perjuangan dan kontribusi masyarakat desa. Itu semakin menguatkan saya untuk kembali ke desa,” kenangnya.

Di Lawen, alumnus Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Jogjakarta tersebut cepat dekat dengan anak-anak. Dia membawa buku-buku bacaan. “Ngumpulnya di pendapa rumah mertua saya. Ada 160-an anak,” katanya.

Pada prinsipnya, anak-anak masih bersemangat sekolah. Tidak ingin menikah dini. Tapi, mereka tidak punya pilihan. Dari pertemuan itu, Wahya melihat, masih banyak yang tertatih-tatih membaca. Padahal, usia mereka setara siswa kelas V atau VI SD. Namun, mereka bersemangat jika diminta untuk bercerita.

“Itu jadi pintu masuk saya. Anak-anak saya minta mengamati apa yang mereka temui di perjalanan, sorenya didiskusikan,” tutur dia. Hasilnya membuat dia takjub. Anak-anak tersebut sangat peka dan kritis. Ada yang bercerita, “Tadi aku lewat pasar, ternyata kami punya pasar. Tapi, yang jualan bukan orang sini, kebanyakan orang kota. Yang dijual juga bukan produk kami.” Yang lain berujar, “Tadi lewat ladang, banyak tanaman seperti pisang, singkong, dan ubi yang busuk, nggak dipanen karena harga jual sangat murah.”

Wahya dibikin takjub oleh anak-anak tersebut. Mereka bisa mengungkapkan pendapat dengan kritis meski masih sulit membaca. Dari situ, muncul gagasan untuk membuat sesuatu. Anak-anak antusias mengolah singkong, ubi, dan pisang jadi ceriping atau sale. Juga, tape dan kerupuk dari singkong. “Anak-anak minta izin orang tuanya bawa bahan-bahan itu, lalu saya ajak praktik bikin,” kata Wahya.

Awalnya, hasilnya dikonsumsi sendiri. Lalu, anak-anak melontarkan ide untuk menjual hasil olahannya. Selama tujuh bulan, uang yang terkumpul dari penjualan lebih dari Rp 1 juta. Para orang tua pun tertarik untuk ikut beraktivitas. Terbentuklah rembuk warga hingga kelompok tani dengan konsep arisan tenaga. Warga yang dulu terjerat rentenir perlahan-lahan bisa terbebas dan menjadi lebih produktif.

Seperti pendekatannya terhadap anak-anak, Wahya meminta para orang tua untuk riset. Warga mendata hasil alam yang belum dioptimalkan. Ada teh dan kopi yang kemudian diolah dan dipasarkan. “Lama-lama, anak-anak bilang, ‘Kita sudah lama berkegiatan, tapi belum punya nama.’ Terus, ada yang nyebut, ‘Kita anak alam,'” tutur Wahya. Dari situ, muncul sebutan Sanggar Anak Alam yang disingkat Salam. Tanggal 17 Oktober 1988 ditandai sebagai hari lahir Salam.

Dari Lawen, Wahya kemudian pindah ke Kampung Nitiprayan yang merupakan kampung seniman pada 1996. (2)

Pada tahun pertamanya, SALAM baru membuka kelas pendampingan remaja tiap sore. Baru pada 2004, didirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), dan Taman Anak tahun 2006. Jenjang Sekolah Dasar (SD) juga baru ada tahun 2008. Diikuti SMP tahun 2011. Bertahan agak lama, baru pada 2017 orang tua murid meminta Wahya untuk mendirikan SMA. Saat ini status hukum SALAM masuk kategori Pendampingan Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) sebagai sekolah non-formal. Kategori ini masih di bawah Dinas Pendidikan Nasional.

KEGIATAN SANGGAR ANAK ALAM

Sekolah yang didirikan di tengah area persawahan di daerah Nitiprayan, Yogyakarta, ini membalik tatanan pendidikan yang selama ini kita tahu. Sri Wahyaningsih (akrab disapa Wahya), pendiri SALAM memulai sekolah ini pada tahun 2000 lalu dengan kurikulum yang berbeda, yaitu berbasis riset.

Jika di sekolah formal, tiap semester anak-anak wajib mengikuti 8-10 mata pelajaran yang sudah ditentukan oleh sekolah, di SALAM mereka memilih sendiri topik riset mereka, baru mengembangkan risetnya ke pengetahuan lain.

Sumber : http://gubuk-cahaya.blogspot.com/2015/04/sekolah-kehidupan-di-sanggar-anak-alam.html

Nane misalnya, dari riset soal obat herbal, ia jadi harus belajar juga soal jenis tanaman herbal, cara bertanam, sakit-penyakit, metode pengobatan, industri obat-obatan, bahkan soal roda ekonomi yang bergulir di isu soal obat.

Dari satu topik, pengetahuan meluas meliputi berbagai macam hal. Dengan metode seperti ini, pengetahuan yang muncul adalah pengetahuan yang benar-benar dibutuhkan oleh siswa. Tak akan ada pertanyaan galau macam “Kemaren itu susah-susah belajar fisika gunanya buat apa ya?” atau “Ujian matematika disuruh ngitung ribet banget, padahal tiap hari yang kepakai gini doang?”

Sumber : https://gingerbreadandtea.wordpress.com/tag/sanggar-anak-alam/

Yudhistira, Ketua PKBM SALAM mengatakan, meskipun setiap anak memiliki riset yang berbeda, ada pencapaian yang sama dari masing-masing riset pada tiap jenjang. Misalnya, riset anak kelas 1 SD akan berfokus pada pengenalan angka dari 1 sampai 50 dan mampu untuk merangkai kalimat sederhana. Di sinilah peran penting fasilitator untuk mengarahkan anak mengolah data dari hasil riset mereka hingga mendapatkan hasil sesuai dengan indikator pencapaian.

Berbeda dengan sekolah alam pada umumnya, konsep Salam adalah belajar keseharian, melalui riset, melalui sesuatu yang riil. Salam mengambil kompetensi dasar dari kurikulum. “Selebihnya perspektif pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya tadi,” urainya. Pola riset murid kelas I-III adalah secara bersama-sama dibimbing fasilitator untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Kelas IV hingga SMA, setiap anak mulai melakukan riset dari ketertarikan masing-masing. Ada yang riset tentang makanan, tanaman, obat herbal, make-up, menari, musik, sesuai minat dan bakat tiap anak. Satu kelas dibatasi 15 murid dengan tiga fasilitator belajar.

“Jadi, kami nggak berbasis mata pelajaran,” ucap ibu tiga anak tersebut. Fasilitator membimbing anak-anak untuk menyusun pertanyaan dasar, mendapatkan data, menganalisis, serta membuat kesim­pulan. “Setelah itu, tiap anak presentasi di depan teman-temannya, orang tua, dan fasilitator,” tutur Wahya. Hasil pembelajaran tersebut digunakan untuk mencapai kompetensi dasar.

Makin tinggi jenjangnya, riset yang dilakukan makin mengerucut. Contohnya, mau jadi seniman, seniman apa? Craft, misalnya. Lebih spesifik lagi, kerajinan dari bahan daur ulang. “Riset tentang bahan bekas yang bisa didaur ulang, pewarnaannya bagaimana, lalu pola pemasaran seperti apa,” urainya. Pada tingkat SMA, tiap anak sudah membuat karya. Ada yang punya produk tas sablon dari pewarna alami. Ada yang membuat kerajinan dari kain perca. Ada pula yang menjadi make-up artist.

Salah satunya Ni Made Vena Indira, murid Salam yang kini duduk di kelas X SMA. Pemilik sapaan Vena itu menjadi murid Salam sejak kelas III SD. Sebelum didaftarkan ortu untuk masuk Salam, dia sempat berhenti sekolah di kelas I dan II. “Gak cocok soalnya,” ucap Vena, yang kini berusia 17 tahun.

Di Salam, dia mengambil fotografi, kemudian bahasa Korea, dan sekarang berfokus mengambil riset tentang make-up. “Saya pengin jadi make-up artist,” ucapnya. Vena menceritakan, sekolah di Salam mulai Senin sampai Jumat pukul 08.00 hingga 13.00. (2)

Seluruh kegiatan riset yang dilakukan oleh siswa-siswa di SALAM tidak lepas dari semboyan belajarnya yakni: “Mendengar, saya lupa. Melihat, saya ingat. Melakukan, saya paham. Menemukan sendiri, saya kuasai.” Ada pula slogan yang selalu menjadi pegangan, yaitu “Jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan.” Slogan-slogan inilah yang menjadi dasar siswa-siswi di SALAM memiliki kualitas yang tidak kalah, bahkan mampu melebihi siswa-siswi dari sekolah formal konvensional. (3)

Di SALAM, mata pelajaran di sekolah formal justru dianggap seperti kotak yang membatasi insting eksplorasi siswa. Tak cukup dengan diberi batas, siswa dipaksa memenuhi beban nilai yang sangat berat. Menelan ilmu-ilmu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

“Di sekolah formal saya melihat mereka banyak belajar sesuatu yang belum pas di usianya. Misalnya anak SD belajar tugas MPR-DPR, prosedur cari KTP, Pemilu, itu ngapain? Untuk apa? Harusnya kan mereka belajar soal diri sendiri, potensi diri, apa yang dia lakukan, dan kebutuhan dasar mereka,” ujar Wahya.

Menurutnya, orang di desa tidak termotivasi untuk menyekolahkan anak mereka, karena biasanya ketika anak sudah jadi siswa sekolah, mereka tidak mau lagi membantu keluarga di sawah.

“Kita itu negara agraris, tapi pemerintah malah bikin program cuci tangan dengan sabun, kesannya tanah itu jadi kotor dan tidak higienis. Anak jadi jauh dengan sawah. Di Papua juga, dulu kaki-kaki mereka nggak apa-apa kena duri di hutan, tapi sejak ada sekolah lalu mereka wajib pakai sepatu kaki jadi manja, malah nggak biasa masuk hutan lagi.

Padahal itu lingkungan mereka. Menurut saya, sekolah justru mencabut mereka dari akarnya, menjauhkan mereka dari lingkungan dan kehidupan yang sesungguhnya,” ujar Wahya. (1)

TIDAK ADA GURU DAN SERAGAM

Alih-alih guru, tiap kelas di SALAM diampu oleh 3 fasilitator. Tugas mereka hanya mendampingi riset yang dilakukan oleh siswa. Mereka bahkan tak berhak mengatur jalannya kelas. Karena kelas berjalan sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh siswanya sendiri.

Sumber : https://salamjogja.wordpress.com/2007/07/14/hello-world/

Pelajaran agama tak diberikan di sekolah karena menurut Wahya itu jadi tanggung jawab orang tua. Selama risetnya, anak-anak dibatasi menggunakan gadget. Buku dan narasumber dijadikan rujukan pertama, baru jika sudah benar-benar kesulitan siswa boleh menggunakan gawai berinternet.

Di akhir semester, hasil riset dipresentasikan dalam berbagai bentuk seperti pameran atau pertunjukan. Dengan metode seperti ini, anak-anak dilatih untuk memerdekakan diri mereka. Belajar apa yang mereka sukai, menemukan pengetahuannya sendiri.

Satu-satunya batas yang diberikan ke anak adalah pemilihan topik riset, yaitu harus apa yang sehari-hari mereka lihat atau pegang. “Masak iya di sini mau belajar roket, padahal kita enggak pernah lihat roket beneran, itu enggak akan ngaruh ke masa depan mereka. Kami nggak minta riset yang gede kok, supaya tidak terlalu berjarak dengan lingkungan,” cerita Erika, fasilitator relawan yang mendampingi kelas 7. “Di sini aku jadi menghargai proses anak-anak, ada yang cepet, ada yang lambat. Di titik itu aku mengerti anak-anak berkembang dengan cara sendiri-sendiri,” ujar Erika.

Andy Hermawan, fasilitator kelas 5 SD juga bercerita soal siswa-siswanya. “Kami sedang riset soal kangkung dan kemangi lewat dua media tanam, tanah danaquaponik. Nah dari situ, kita belajar bahwa kangkung dan kemangi banyak tumbuh di Asia Selatan. Jadi belajar geografi juga, negara di Asia Selatan apa aja, ibu kotanya apa aja, mata uangnya apa. Jadi meluas gitu,” ujarnya sumringah.

Dalam evaluasi siswa, mereka menghindari menghakimi menggunakan angka. Semua laporan berbentuk naratif dan menyoroti perkembangan siswa, bukan kecakapan siswa dalam sebuah topik tertentu. Dengan begini, siswa tak merasa rendah diri, dan terhindar dari sifat kompetitif dengan temannya. (1)

HARAPAN YANG ADA

SALAM percaya bahwa cara belajar dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh tiap anak itu berbeda. Penyeragaman pendidikan justru akan mematikan potensi dan kepribadian anak itu sendiri. Maka kalau anak terjebak pada sistem pendidikan tersebut, bukan tak mungkin ia hanya akan jadi sekrup-sekrup di pabrik yang kapan saja bisa diganti dengan mudahnya.

Pendidikan kita yang praktikal dan generik mengarahkan kita jadi produk-produk industri, seperti yang diilustrasikan Pink Floyd di lagu “Another Brick in The Wall”. Seolah antara ‘terpelajar’ dan ‘berijazah’ adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

“Pemerintah kita nggak mendesain pendidikan sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika. Penyeragaman itu kan sebenarnya menodai slogan itu sendiri. Pendidikan di sini sama di Papua kan harusnya beda, tapi sekarang disamakan. Kalau standarnya dibuat satu, jadinya memarjinalkan. Itu luar biasa bahaya,” ujar Wahya berapi-api.

Menurutnya, harusnya pemerintah cukup menentukan capaian atau kompetensi dasar untuk pendidikan, “Cukup blueprint-nya aja, prakteknya harusnya diserahkan pada institusi pendidikan. Nah tiap sekolah harusnya punya visi misi sendiri, jadi yang daftar juga berarti sepakat dengan visi institusi itu.”

“Sekolah itu harus kritis, kalau enggak nanti kayak sekolah gajah. Gajah dulu kan ngamuk pas hutan mereka di rusak, eh setelah dididik, sekarang mau disuruh ngangkutin gelondongan kayu atau main sirkus. Kalau nggak kritis, kita cuma akan jadi buruh-buruh aja. Enggak punya inisiatif, enggak punya ketrampilan, enggak punya ciri khas masing-masing. Kami sangat menghindari penyeragaman dalam bentuk apapun.”

Sumber :

1. https://www.vice.com/id_id/article/xw4ez3/sekolah-tanpa-seragam-tanpa-guru-dan-tanpa-mata-pelajaran-di-yogya

2. https://www.jawapos.com/features/30/04/2018/sanggar-anak-alam-sekolah-dengan-konsep-membebaskan-anak

3. http://wargajogja.net/pendidikan/sanggar-anak-alam-belajar-lewat-riset.html

Advertisement
Advertisement

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *