Bahaya Yang Mengintai Dari Balik Tissue Dan Rp 5,6 Milyar Hanya Untuk “Membeli” Tissue Basah

Bagikan Yuk

Salah satu gaya hidup dari masyarakat sekarang adalah seringnya menggunakan tissue untuk berbagai keperluan dengan berbagai macam jenis tissue. Dari mulai menggunakan tissue sehabis cuci tangan, menggunakan tissue sehabis ke kamar mandi hingga menggunakan tissue untuk membersihkan muka.

Pertanyaannya adalah apakah semua tahu tentang proses yang terjadi hingga akhirnya ada sebuah tissue di dekat kita.

Berikut perjalanannya.

Tissue mulai dibuat sekitar tahun 1880-an  dari bahan baku kulit kayu yang dijadikan pulp (bubur kertas). Sampai sekarang pun bahan baku dalam pembuatan  tissue masih menggunakan kayu. Kayu yang didapat pastinya dari hasil penebangan pohon- pohon di hutan. Biasanya tissue di Indonesia menggunakan bahan baku dari pohon.

Sumber : https://steemit.com/contestearthday/@hidra.silvia/mengurangi-penggunaan-tisu-mengurangi-sampah-di-bumi

Bahan baku utama dari tissue adalah Tpulp atau bubur kertas = kayu = pohon

1 Box tissue (isi 20 sheet) diproduksi dari 1 batang pohon.

Menurut Koesnadi dari Sekjend Sarekat Hijau Indonesia (SHI) tentang Hitungan sederhana bagaimana penyusutan Hutan Alam Indonesia akibat dari penggunaan tissue oleh masyarakat.

“Jika jumlah penduduk Indonesia 200 juta orang dan setiap satu harinya 1 orang menggunakan ½ gulung kertas tisu artinya penggunaan kertas tisu bisa mencapai 100 juta gulung tisu per hari, berarti per bulan nya pemakaian tisu di indonesia mencapai 3 milyar gulung.

Bila berat kertas tissu itu 1 gulung mencapai ¼ kg, maka 3 milyar dihasilkan angka kira-kira 750.000.000 kg setara dengan 750.000 Ton, Bila untuk menghasilkan 1 ton pulp diperlukan 5 m3 kayu bulat, dengan asumsi kayu bulat 120 m3 per hektar (diameter 10 up) maka sudah bisa ditebak penggunaan hutan untuk urus kebersihan mencapai ratusan ribu hektar setiap bulannya”. (Sumber: dari sini)

Proses pembuatan tisu, membutuhkan tekhnik chipping (memotong-motong menjadi irisan tipis), grounding (meratakan permukaan), pressing (memadatkan), drying (mengeringkan) and chlorine bleaching wood (pemutihan kayu dengan klorin). Proses pemutihan menggunakan klorin dan merkuri, yang berbahaya bagi manusia serta lingkungan. Sumber (2)

Meskipun kita ikut serta menyukseskan program 1 orang menanam 1 pohon sekalipun, aksi ini belum berarti apa-apa jika dibandingkan dengan jumlah tissue yang kita gunakan.

Pohon yang dapat ditebang dan diolah adalah pohon yang telah berusia minimal 6 tahun. Ayo hitung, 1 hari kita menggunakan berapa helai tissue? Ya untuk mengeringkan keringat, wajah berminyak, membersihkan make up, membersihkan kotoran, membersihkan tangan sehabis makan, mengeringkan makanan yang berminyak dan lain sebagainya.

Dan satu bulan berapa banyak tissue yang kita pakai, apalagi 6 tahun. Tidak cukup dengan 1 batang pohon yang kita tanam guys. (Saya disini mengkritisi penggunaan tissuenya, bukan aksi 1 orang menanam 1 batang pohon. Untuk aksi itu saya totally mendukungnya, karena aksi kecil itu akan berdampak besar bagi keberlangsungan bumi ini tentunya dilengkapi dengan kebijaksanaan kita dalam memilih produk yang ramah lingkungan, misalnya stop (atau minimal mengurangi) penggunaan tissue.

1 Batang pohon punya arti besar, karena dapat menghasilkan oksigen yang dibutuhkan untuk 3 orang bernapas dan dapat pula menyerap karbondioksida untuk akhirnya memproduksi oksigen yang dibutuhkan makhluk hidup. Selain itu, 1 batang pohon juga berkontribusi besar bagi penyerapan air sehingga mencegah terjadinya banjir. Sumber (1)

BAHAYA PENGGUNAAN TISSUE

Dampak penggunaan tissue bagi lingkungan jelas terlihat baik dari sisi sampah yang dihasilkan maupun kerusakan yang diakibatkan oleh proses pembuatan tissue itu sendiri.

Nah berikut bahaya lain yang ada dalam penggunaan tissue yaitu kita kerap menggunakan tissue untuk mengambil atau membungkus makanan, misalnya gorengan, untuk menghindari tangan kotor atau menyerap minyak yang berlebihan pada makanan tersebut. Padahal, zat kimia yang terkandung dalam kertas tissue dapat bermigrasi ke makanan. Seperti pernah dikemukakan Sapto Nugroho Hadi, Departemen Biokimia IPB.

Zat yang disebut pemutih – klor – memang ditambahkan dalam pembuatan kertas tissue agar terlihat lebih putih dan bersih. Zat ini bersifat karsinogenetik (pemicu kanker).

Hal yang sama juga terjadi pada kertas yang lain, entah kertas koran atau majalah, yang sering dipakai untuk membungkus makanan. Kertas-kertas ini mengandung timbal (Pb) yang bisa berpindah kemakanan karena panas makanan.Timbal yang masuk ketubuh akan meracuni tubuh dan menyebabkan beragam gangguan, dari kondisi pucat sampai lumpuh. Sumber (3)

BACA : Tanpa Disadari, Betapa Kejamnya Sedotan Dalam Merusak Lingkungan

Berikut petikan berita dari detik.com tentang akibat yang ditimbulkan oleh tissue basah

Otoritas perairan di Australia dibuat pusing oleh maraknya penggunaan tisu basah. Setiap tahun mereka harus merogoh kocek hingga $400.000 atau setara Rp4 miliar untuk mengatasi masalah penyumbatan yang dipicu tisu basah yang tidak bisa terurai.

Gara-gara masalah tisu basah ini, otoritas perairan Australia terpaksa memanggil pihak pengusaha dan pemangku kepentingan lainnya untuk bertemu dan membahas upaya mengatasi apa yang sering terbukti menjadi masalah yang menelan biaya mahal untuk perawatan tanaman.

Direktur Asosiasi Layanan Air Australia, Adam Lovell mengatakan tisu basah sering diresapi dengan pelembab atau minyak, hanya saja tisu jenis ini tidak bisa hancur atau terurai setelah disiram di toilet.

“Ada yang mengatakan mereka bisa disiram kedalam toilet dan dan beberapa bahkan merekomendasikan – untuk membuang tisu basah bekas di tempat sampah,” katanya.

“Namun limbah tisu basah ini tidak bisa hancur atau terurai sebagaimana tisu toilet umumnya dan ini memicu masalah serius,”

“Ketika disiramkan ke pipa, bahkan dirumah Anda sendiri, mereka dapat menyumbat di sekitar akar pohon yang mungkin telah masuk ke pipa Anda, atau sekitar saluran pipa air pada umumnya didalam kota, dan kemudian tentu saja sumbatan limbah tisu basah itu akan menyebabkan masalah di pabrik pengolahan limbah. ”

Lovell mengatakan asosiasinya bersedia menegosiasikan standar untuk produk yang bisa disiramkan kedalam toilet dan mencapai pelabelan produk yang konsisten produk.

“Ketika pelanggan menyadari hal ini benar-benar dapat menyumbat sistem pembuangan limbah mereka sendiri dan harus membayar sendiri biaya perbaikan itu, maka mereka akhirnya akan sadar kalau memang lebih baik menggunakan kertas toilet normal saja,” katanya.

“Intinya hanya kotoran manusia dan kertas tisu toilet biasa saja yang boleh disiramkan ke dalam toilet, itu pesan tegas yang hendak kami sampaikan,” katanya.

Lovell mengatakan tisu basah ditambah dengan bahan beku lain yang tersumbat selokan dari kota-kota besar disebut “fatbergs”.

“Di London tahun lalu limbah fatberg yang harus mereka bersihkan dari saluran pembuangan limbah besarnya hampir seukuran bus ;tingkat (double-decker),”katanya.

Asosiasi Layanan Perairan Australia juga memperingatkan mayoritas pipa limbah di perkotaan juga berada dekat dengan jalan raya, sehingga jika harus diperbaiki karena ada penyumbatan itu berarti jalan didekatnya harus ditutup dan itu tentu saja akan mengurangi kenyamanan pengguna kendaraan.

Dikatakannya polusi dari sumbatan tisu basah ini juga bisa saja merembes ke saluran air.

Lovell mengatakan penggunaan tisu basa saat ini tengah meningkat dan beberapa orang mungkin terkejut begitu mengetahui kalau bukan hanya bayi atau wanita yang menggunakan produk itu, tapi pria paruh baya juga menjadi pengguna rutin tisu basah,”

Menurutnya masalah ini diperparah dengan penggunaan tisu pembersih untuk menghilangkan kosmetik.

“Tisu basah ini bentuknya seperti kain dan tidak akan sobek sementara kertas tisu toilet akan langsung hancur atau sobek,’

Otorotas layanan Air di Adelaide nengatakan setiap tahun mereka harus mengeluarkan uang senilai $400,000 ;untuk merawat pipa dan saluran pembuangan limbah yang tersumbat karena penggunaan tisu basah. Sumber (5)

UPAYA MENGHINDARI PENGGUNAAN TISSUE

Menempati bumi sama artinya adalah menjaga bumi dengan segala isi yang ada didalamnya, dengan begitu kita jangan sampai merusak apa yang ada dibumi tersebut. Sama halnya seperti menggunakan tisu, dan ini secara tidak sadar kita memberikan peluang untuk penebangan pohon yang tentunya juga kita secara tidak langsung telah membiarkan terjadinya global warming seperti saat ini yang melanda dunia.

Untuk mengatasi penggunaan tisu yang berlebihan kita harus memikirkan solusi praktis dan sekaligus bisa tidak menggunakannya lagi dikemudian hari. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dijadikan solusi dari penggunaan tisu tersebut.

a. Sapu tangan

Sapu tangan bisa kita temukan diberbagai tempat dengan harga sangat terjangkau. Penggunaan sapu tangan merupakan salah langkah praktis untuk mengurangi angka pemakaian tisu, karena sapu tangan bisa digunakan dalam waktu yang lama, tidak seperti tisu yang hanya bisa digunakan untuk sekali pakai.

Harga Sapu tangan cenderung terjangkau, mulai dari harga Rp. 1.500,- sampai Rp. 25.000,- (tergantung kualitas bahan/kain dan sizenya). Sapu tangan yang kotor dapat dicuci dan dapat digunakan berkali-kali (re-use).

b. Pengering Elektrik

Alat ini merupakan bentuk sederhana yang mulai digunakan oleh setiap orang, apalagi ditempat-tempat umum sudah banyak menggunakan mesin pengering elektrik ini. Pengering Elektrik merupakan alat yang terdiri dari koil, fan dan switch elektrik, dan tidak memerlukan banyak perawatan. Namun, mempunyai daya tahan sampai 7 tahun. Tentunya ini juga tidak memerlukan biaya tambahan untuk perawatan karena hanya memerlukan pengeluaran untuk listrik yang digunakan. Sumber (4)

Kalau 1 orang menggunakan rata-rata 20 detik waktu pengering dengan konsumsi rata-rata 2 KW maka:

(20 detik/3600 detik) x 2KW = 0.01 KwH per orang

Dengan asumsi harga per KwH 1000 rupiah, maka:

0.01 KwH x 1000 rupiah = 10 rupiah per orang per pemakaian 20 detik

Sumber :

1. https://www.kompasiana.com/ariname/550ffb55a33311c639ba7e6e/bumiku-dalam-gulungan-tissue

2. https://www.kompasiana.com/devidhede/552a2056f17e61625fd623c2/ayo-diet-tisu-lestarikan-bumiku

3. http://www.apakabardunia.com/2013/01/tissue-si-pembabat-pohon-dunia.html

4. https://steemit.com/contestearthday/@hidra.silvia/mengurangi-penggunaan-tisu-mengurangi-sampah-di-bumi

5. https://news.detik.com/australia-plus-abc/2864448/tisu-basah-picu-maraknya-penyumbatan-saluran-limbah-di-australia

Advertisement
Advertisement

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *